Senin, 03 Mei 2021
Senin, 04 Januari 2021
Jumat, 25 Juli 2014
Penentuan Sampel
Teknik
Pengambilan Sampel : Nonprobability Sampling
Pengertian
Nonprobability Sampling atau Definisi Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling Nonprobality ini
meliputi :Sampling Sistematis, Sampling
Kuota, Sampling Insidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh, Snowball Sampling.
1. Sampling Sistematis
Pengertian
Sampling Sistematis atau Definisi Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel
berdasarkan urutan dari anggota
populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh
Sampling Sistematis, anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota
populasi itu diberi nomor urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan
dengan mengambil nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan
tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil
sebagai sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
2. Sampling Kuota
Pengertian
Sampling Kuota atau Definisi
Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi
yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota, akan melakukan
penelitian tentang Karies Gigi,
jumlah sampel yang ditentukan 500 orang, jika pengumpulan data belum memenuhi kuota
500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai. Bila pengumpulan
data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka
setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau
5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
3. Sampling Insidental
Pengertian
Sampling Insidental atau Definisi Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu
dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang
kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4. Purposive Sampling
Pengertian
Purposive Sampling atau Definisi Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu. Contoh
Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan,
maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih
cocok digunakan untuk Penelitian
Kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
5. Sampling Jenuh (Sensus)
Pengertian
Sampling Jenuh atau Definisi
Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota
populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah
populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin
membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
6. Snowball Sampling
Pengertian
Snowball Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel
yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang
menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel,
pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang
sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti
mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang
diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah
sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel
Purposive dan Snowball. Contohnya akan meneliti siapa provokasi kerusuhan, maka
akan cocok menggunakan Purposive
Sampling dan Snowball
Sampling.
Cara Pengambilan Sampel dengan Probabilitas
Sampling
Ada empat macam teknik pengambilan sampel
yang termasuk dalam teknik pengambilan sampel dengan probabilitas sampling.
Keempat teknik tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi, klaster, dan
sistematis.
1. Sampling Acak
Ada beberapa nama untuk menyebutkan teknik
pemilihan sampling ini. Nama tersebut termasuk di antaranya: random sampling
atau teknik acak. Apa pun namanya teknik ini sangat populer dan banyak
dianjurkan penggunaannya dalam proses penelitian. Pada teknik acak ini, secara
teoretis, semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan
yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak
dijadikan sampel, satu hal penting yang harus diketahui oleh para peneliti
adalah bahwa perlunya bagi peneliti untuk mengetahui jumlah responden yang ada
dalam populasi.
Teknik memilih secara acak dapat dilakukan
baik dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan tabel random.
a. Cara Tradisional
Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan
ibu-ibu ketika arisan. Teknik acak ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah
seperti berikut:
tentukan jumlah populasi yang dapat ditemui;
daftar semua anggota dalam populasi, masukkan
dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan;
kocok kotak tersebut dan keluarkan lewat
lubang pengeluaran yang telah dibuat;
nomor anggota yang keluar adalah mereka yang
ditunjuk sebagai sampel penelitian;
lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan
dapat dicapai.
b. Menggunakan Tabel Acak
Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek
dilakukan dengan menggunakan tabel yang dihasilkan oleh komputer dan telah
diakui manfaatnya dalam teori penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri dari
kolom dan angka lima digit yang telah secara acak dihasilkan oleh komputer.
Dengan menggunakan tabel tersebut,
angka-angka yang ada digunakan untuk memilih sampel dengan langkah sebagai
berikut:
identifikasi jumlah total populasi;
tentukan jumlah sampel yang diinginkan;
daftar semua anggota yang masuk sebagai
populasi;
berikan semua anggota dengan nomor kode yang
diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi yang berjumlah 300 orang, atau 00-99
untuk jumlah populasi 100 orang;
pilih secara acak (misalnya tutup mata)
dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam tabel;
pada angka-angka yang terpilih, lihat hanya
angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 500 maka hanya 3 digit dari
akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka hanya diperlukan dua digit
dari akhir saja;
jika angka dikaitkan dengan angka terpilih
untuk individual dalam populasi menjadi individu dalam sampel. Sebagai contoh,
jika populasinya berjumlah 500, maka angka terpilih 375 masuk sebagai individu
sampel. Sebaliknya jika populasi hanya 300, maka angka terpilih 375 tidak
termasuk sebagai individu sampel;
gerakan penunjuk dalam kolom atau angka lain;
ulangi langkah nomor 8 sampai jumlah sampel
yang diinginkan tercapai.
Ketika jumlah sampel yang diinginkan telah
tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi dalam kelompok kontrol dan
kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain penelitian.
Contoh Memilih Sampel dengan Sampling Acak
Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi
terhadap para siswa yang ada di sekolah. Populasi siswa SMK ternyata jumlahnya
600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dia ingin
menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia menggunakan
langkah-langkah untuk memilih sampel seperti berikut.
Populasi yang jumlahnya 600 orang
diidentifikasi.
Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60 orang.
Populasi didaftar dengan diberikan kode dari
000-599.
Tabel acak yang berisi angka random digunakan
untuk memilih data dengan menggerakkan data sepanjang kolom atau baris dari
tabel.
Misalnya diperoleh sederet angka seperti
berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899
Oleh karena jumlah populasi 600 orang maka
dua angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278.
Coba langkah d sampai diperoleh semua jumlah
60 responden.
2. Teknik Stratifikasi
Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian
sosial lainnya, sering kali ditemui kondisi populasi yang ada terdiri dari
beberapa lapisan atau kelompok individual dengan karakteristik berbeda. Di
sekolah, misalnya ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat
dibedakan menurut jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki dan
kelompok perempuan. Di masyarakat, populasi dapat berupa kelompok masyarakat,
misalnya petani, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagainya.
Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili; jika
digunakan teknik acak. Karena hasilnya mungkin satu kelompok terlalu banyak
yang terpilih sebagai sampel, sebaliknya kelompok lain tidak terwakili karena
tidak muncul dalam proses pemilihan.
Teknik yang paling tepat dan mempunyai
akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik
stratifikasi ini harus digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa
kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau
lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi
juga lebih dapat ditingkatkan dengan menggunakan proporsional besar kecilnya
anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh besar kecilnya jumlah anggota
populasi dalam lapisan yang ada.
Seperti halnya teknik memilih sampel secara
acak, teknik stratifikasi juga mempunyai langkah-langkah untuk menentukan
sampel yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat seperti berikut
:
Identifikasi jumlah total populasi.
Tentukan jumlah sampel yang diinginkan.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai
populasi.
Pisahkan anggota populasi sesuai dengan
karakteristik lapisan yang dimiliki.
Pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak
seperti yang telah dilakukan dalam teknik random di atas.
Lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan
yang ada.
Sampai jumlah sampel dapat dicapai.
Contoh menentukan sampel dengan teknik
stratifikasi
Seorang peneliti ingin melakukan studi dari
suatu populasi guru SMK yang jumlahnya 900 orang, sampel yang diinginkan adalah
10% dari populasi. Dalam anggota populasi ada tiga lapisan guru, mereka adalah
yang mempunyai golongan dua, golongan tiga, dan golongan empat. Dia ingin
memilih sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi. Terangkan
langkah-langkah guna mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi
tersebut.
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Jumlah total populasi adalah 900 orang.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai
populasi dengan nomor 000-899.
Bagi populasi menjadi tiga lapis, dengan
setiap lapis terdiri 300 orang.
Undilah sampel yang diinginkan 30% x 900 =
270 orang.
Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang.
untuk lapisan pertama gerakan penunjuk
(pensil) dalam tabel acak.
Dan pilih dari angka tersebut dan ambil yang
memiliki nilai lebih kecil dari angka 899 sampai akhirnya diperoleh 90 subjek.
Lakukan langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua dan
ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270 orang.
3. Teknik Klaster
Teknik klaster merupakan teknik memilih
sampel lainnya dengan menggunakan prinsip probabilitas. Teknik ini mempunyai
sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan kedua teknik yang telah dibahas di
atas. Teknik klaster atau Cluster Sam¬pling ini memilih sampel bukan didasarkan
pada individual, tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok
subjek yang secara alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering digunakan
oleh para peneliti di lapangan yang wilayahnya mungkin luas. Dengan menggunakan
teknik klaster ini, mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga dalam menemui
responden yang menjadi subjek atau objek penelitian.
Memilih sampel dengan menggunakan teknik
klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti berikut.
Identifikasi populasi yang hendak digunakan
dalam studi. b. Tentukan besar sampel yang diinginkan.
Tentukan dasar logika untuk menentukan
klaster.
Perkirakan jumlah rata-rata subjek yang ada
pada setiap klaster.
Daftar semua subjek dalam setiap klaster
dengan membagi antara jurnlah
sampel dengan jumlah klaster yang ada.
Secara random, pilih jumlah angggota sampel
yang diinginkan untuk setiap klaster.
Jumlah sampel adalah jumlah klaster dikalikan
jumlah anggota populasi per klaster.
Contoh terapan pemilihan sampel dengan
menggunakan teknik klasterMisalkan seorang peneliti hendak melakukan studi pada
populasi yang jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada. `Sampel yang
diinginkan adalah 400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara
klaster dengan sekolah sebagai dasar penentuan logis klaster yang ada.
Bagaimanakah langkah menentukan sampel tersebut?
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Total populasi adalah 4.000 orang.
Jumlah sampel yang diinginkan 400 orang.
Dasar logis klaster adalah sekolah yang
jumlahnya ada 100.
Dalam populasi, setiap sekolah adalah
4.000/100 = 40 guru setiap sekolah.
Jumlah klaster yang ada adalah 400/40 = 10.
Oleh karena itu, 10 sekolah di antara 100
sekolah dipilih secara random.
Jadi, semua guru yang ada dalam 10 sekolah
sama dengan jumlah sampel yang diinginkan.
4. Teknik Secara Sistematis
Teknik memilih sampel yang keempat adalah
teknik sistematis atau systematic sampling. Teknik pemilihan ini menggunakan
prinsip proporsional. Caranya ialah dengan menentukan pilihan sampel pada
setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi yang telah ditentukan misalnya
5,6 atau 10. Syarat yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah adanya
daftar atau list semua anggota populasi.
Untuk populasi yang didaftar atas dasar
urutan abjad pemakaian metode menggunakan teknik sistematis juga dapat
diterapkan. Walaupun mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama yang
berawalan su, sri dalam bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama dalam
awalan tersebut. Sisternatis proporsional k dapat memilih dengan baik.
Teknik observasi
lapangan khusus untuk penelitian di lokasi tambang
Pengumpulan Data penelitian
Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan
pengamatan langsung di lapangan. Mengamati tidak hanya melihat, melainkan
merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di lapangan. Teknik
ini ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu
apabila pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada
objek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak
langsung (observasi non-partisipasi) yaitu pengumpulan data melalui pengamatan
dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara langsung di lapangan.
Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1) Membuat catatan anekdot (anecdotal
record), yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan
observasi. Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat
observasi.
2) Membuat daftar cek (checklist),
yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis. Daftar
cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai dengan tujuan observasi.
3) Membuat skala penilaian (rating scale),
yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian secara bertingkat
untuk mengamati kondisi data secara kualitiatif.
4) Mencatat dengan menggunakan alat (mechanical
device), yaitu pencatatan yang dilakukan melalui pengamatan dengan
menggunakan alat, misalnya slide, kamera, komputer, dan alat perekam
suara.
Observasi tersebut dapat terbentang mulai
dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak formal. Bukti
observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan
tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi
baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi
tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bisa mengambil
foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian (Dabbs,
1996: 113).
REFERENSI
Sugiyono, 2007, Statistika
Untuk Penelitian, Cetakan Keduabelas, Alfabeta, Bandung.
Sumber :
http://gerrytri.blogspot.com/2013/06/teknik-pengambilan-sampel-dalam.html
Rabu, 23 Juli 2014
Tindakan Plagiat
Menurut situs Dikti “Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengakuan
atas karya orang lain oleh seseorang yang menjadikan karya tersebut
sebagai karya ciptaannya. Orang yang melakukan plagiarisme disebut
plagiaris/plagiator. Dengan batasan demikian, plagiarisme adalah
pencurian (bahasa kasarnya, pembajakan) dan plagiaris adalah pencuri
(pembajak)”.
Definisi Plagiarisme
Plagiarisme berasal dari dua kata Latin, yang berarti plagiarius
penculik, dan plagiare yang berarti mencuri. Menurut Random House
Dictionary Compact Unabridged, plagiarisme didefinisikan sebagai
“penggunaan atau imitasi dekat dari bahasa dan pemikiran penulis lain
dan representasi mereka sebagai karya asli seseorang.” Hal ini juga
dianggap sebagai pelanggaran etika ilmiah dan kekayaan intelektual oleh
banyak akademisi.
Plagiarisme dalam kata-kata sederhana mencuri bahasa dan pikiran
orang lain, dan lewat itu sebagai karya asli seseorang. Ada berbagai
jenis plagiarisme, membaca tentang mereka untuk memahami jenis dan cara
yang dilakukan.
Adapun Jenis-jenis dalam Plagiarisme :
1. Akademik dan jurnalistik plagiarisme merupakan praktek usia
tua. Namun, plagiarisme internet sekarang merajalela dengan munculnya
Internet, dan plagiarisme telah mengambil banyak bentuk-bentuk baru.
Sekarang hanya tentang cut, copy, dan paste, atau mengulang sedikit.
Namun salinan itu!
2. Plagiarisme Lengkap: Isi yang telah disajikan sebagai sendiri,
tanpa ada perubahan yang dibuat untuk bahasa, pikiran, aliran, dan
bahkan tanda baca dikenal sebagai plagiarisme penuh. Banyak akademisi
percaya bahwa umumnya pekerjaan orang-orang yang tidak kompeten dalam
mata pelajaran tertentu, atau sekadar malas untuk berusaha.
3. Plagiarisme parsial: Ketika konten yang disajikan adalah kombinasi
dua sampai tiga sumber yang berbeda, di mana penggunaan mengulang dan
sinonim merajalela, maka dikenal sebagai plagiarisme parsial. Di sini,
penulis menggunakan beberapa orisinalitas, tapi tidak memadainya
pengetahuan tentang mata pelajaran tertentu adalah alasan umum untuk
kejadian plagiarisme parsial.
4. Plagiarisme minimalis: Di sini, penulis plagiator orang lain
konsep, gagasan, pikiran, atau pendapat dalam kata-kata mereka sendiri
dan dalam aliran yang berbeda. Meskipun banyak yang tidak menganggap ini
sebagai plagiarisme (mungkin seseorang yang melakukannya!), Itu
dianggap sebagai mencuri someones studi atau pikiran. Plagiarisme
minimalis melibatkan banyak parafrase.
5. Sumber Kutipan: Ketika informasi sumber lengkap dengan kutipan
disediakan, tidak berjumlah plagiarisme. Namun, definisi sumber kutipan
lengkap bervariasi jauh. Beberapa penulis mengutip nama sumber, tetapi
tidak memberikan informasi yang dapat diakses lainnya. Sementara
beberapa mudah memberikan referensi palsu, beberapa hanya menggabungkan
informasi mereka dengan karya asli penulisan. Seorang penulis hantu
adalah contoh sempurna dari plagiator. Di sini penulis merasa bebas
untuk sumber informasi dan mereproduksi itu sebagai milik mereka.
6. Self-plagiarisme: Bentuk plagiarisme yang mungkin paling
diperebutkan sebagai “itu” dan “tidak”. Menggunakan karya sendiri,
sepenuhnya atau sebagian, atau bahkan pikiran yang sama dan
re-menulisnya, dikenal sebagai self-plagiarisme oleh banyak orang.
Penerbitan bahan yang sama melalui media yang berbeda tanpa referensi
itu benar adalah kebiasaan yang sangat umum di antara banyak penulis.
Konten pada banyak situs adalah contoh sempurna dari diri plagiarisme.
Setelah memahami apa itu plagiat dan jenis plagiat , ada beberapa
ciri yang termasuk ke dalam plagiat dan yang bukan termasuk plagiat ,
dan cara menghindari tindakan plagiarisme .
Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarisme.
- Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
- Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
- Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
- Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
- Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya
- Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
- Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.
Yang digolongkan sebagai plagiarisme:
- menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain
- mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya
Yang tidak tergolong plagiarisme:
- menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
- menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.
- mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.
Cara Menghindari Plagiarisme
Plagiarisme ini adalah sebuah pelanggaran etika oleh karena itu kita harus dapat menghindari dan mencegahnya, berikut cara-cara menghindari dan mencegah tindakan plagiat.
Plagiarisme ini adalah sebuah pelanggaran etika oleh karena itu kita harus dapat menghindari dan mencegahnya, berikut cara-cara menghindari dan mencegah tindakan plagiat.
- Dalam Lembaga Pendidikan dan Universitas harus dberikan panduan dan bimbingan kepada siswa/mahasiswa dalam membuat suatu karya, skripsi, karya ilmiah dan sebagainya. hal ini dapat membuat siswa atau mahasiswa tidak mencoba untuk melakukan tindakan plagiarisme.
- Menumbuhkan rasa percaya diri kepada siswa ataupun mahasiswa agar menghargai karya ciptaan sendiri maupun orang lain, hal ini peran keluarga, guru, dan dosen sangatlah berpengaruh untuk menumbuhkan rasa percaya diri tersebut.
- Memberi penghargaan terhadap karya-karya orang yang tidak melakukan tindakan plagiat, hal ini sangat berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri untuk menciptakan hasil karya sendiri.
Plagiat itu sendiri merupakan perbuatan secara sengaja atau tidak
sengaja dalam memperoleh nilai untuk suatu karya ilmiah , dengan
mengutip sebagain atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah orang lain ,
tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (Permendiknas No 17
tahun 2010, Pasal 1 Ayat 1 ).
Dan pelanggaran ini juga diatur didalam undang-undang nomor 19 tahun
2002 tentang hak cipta . sebagaimana undang-undang yang mengatur
tersebut plagiat merupakan tindakan pidana .
dibawah ini jelas sekali undang-undang yang mengaturnya
Pasal 72 ayat (1) :
“Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan
ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1
(satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”.
dimana Pasal 2 ayat (1) tersebut :
“Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak
Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara
otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan
menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Pasal 12
Sanksi bagi Mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat sebagaimana
dimaksudkan dalam Pasal 10 ayat (4), secara berurutan dari yang baling
ringan sampai dengan yang paling berat terdiri atas :
- Teguran
- Peringatan tertulis
- Penundaan pemberian sebagai hak mahasiswa
- Pembatalan nilai satu atau beberapa mata kuliah yang diperoleh mahasiswa.
- Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
- Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa atau;
- Pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program.
Kesimpulan :
Plagiat atau Plagiarisme adalah tindakan penjiplakan atau pencurian
suatu karya seseorang tanpa mencantumkan sumber atau referensi yang
telah di gunakan secara sengaja maupun tidak sengaja plagiat merupakan
tindakan yang tidak terpuji, melanggar etika, melanggar hokum .
Sebenarnya hal ini hanya memberikan keuntungan sesaat, hal ini terjadi
karena banyak masyarakan yang tidak menyadari bahwa tindakan menjiplak
karya orang lain tanpa meminta izin akan merugikan dirinya sendiri dan
korbanya. Jika dikemudain hari dilakukan evaluasi atas karya ilmiah
tersebut maka si “pembajak” akan mengalami kesulitan dan akan
mendapatkan hasil yang buruk .
Menurut saya sebagai penulis , artikel-artikel yang saya muat dalam
blog saya , tidak merupakan tindakan plagiat karena saya selalu
mencantumkan sumber atau refenesi yang saya dapatkan sebagai acuan dari
penulisan artikel saya .
Sumber :
http://vanitya.wordpress.com/2013/12/29/tindakan-plagiat-plagiarisme/
Senin, 21 Juli 2014
Macam-Macam Metode Penelitian
Metode penelitian
adalah rangkaian dari cara / kegiatan pelaksanaan penelitian dan
didasari oleh pandangan filosofis, asumsi dasar, dan ideologis serta
pertanyaan dan isu yang dihadapi. Sebuah penelitian memiliki rancangan penelitian
tertentu. Rancangan ini menjelaskan prosedur / langkah-langkah yang
harus dijalani, waktu penelitian, kondisi data dikumpulkan, sumber data
serta dengan cara apa data tersebut dibuat dan diolah. Tujuan dari
rancangan ini adalah menggunakan metode penelitian yang baik dan tepat,
dirancang kegiatan yang bisa memberikan jawaban yang benar terhadap
pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian. Berikut macam-macam metode
penelitian :
1. Penelitian kuantitatif
komparatif, penelitian tindakan, korelasional, dan ekspos facto.
http://koffieenco.blogspot.com/2013/08/macam-macam-metode-penelitian.html
1. Penelitian kuantitatif
Penelitian ini didasari oleh suatu filsafat positivisme yang mengacu
pada fenomena-fenomena objektif serta dikaji secara kuantitatif.
Memaksimalkan objektivitas desain dalam penelitian dengan memakai
angka-angka, struktur, pengolahan statistik, dan percobaan terkontrol.
Di dalam penelitian kuantitatif ada beberapa metode yakni : deskriptif,
survei,
- Penelitian deskriptif = penelitian deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang ada, dan yang sedang berlangsung saat ini maupun yang lampau. Seperti : berapa lama orang dewasa menghabiskan waktunya untuk bekerja. Penelitian deskriptif, dapat menjelaskan sesuatu kondisi saja, namun dapat juga menjelaskan keadaan da dalam langkah-langkah perkembangannya. Penelitian yang demikian disebut dengan penelitian perkembangan ( developmental studies ). Ada 2 sifat di dalam penelitian perkembangan yakni longitudinal / sepanjang waktu dan cross sectional / dalam potongan waktu.
- Penelitian survei = metode survei digunakan untuk mendapatkan informasi dalam bentuk opini dari sejumlah orang terhadap isu dan topik tertentu. Dalam survei ada 3 karakter utama yaitu 1) informasi dikumpulkan dari kelompok besar orang yang digunakan untuk menjelaskan beberapa aspek tertentu. 2) informasi dikumpulkan lewat pengajuan pertanyaan (biasanya tertulis). 3) informasi yang didapat dari sampel, tidak dari populasi. Tujuan dari survei adalah untuk mengetahui gambaran umum dari populasi.
- Penelitian ekspos facto = metode yang meneliti hubungan antara sebab dan akibat. Penelitian ini dilakukan terhadap program, kejadian / kegiatan yang sudah berlangsung / telah terjadi. Seperti penelitian tentang pemberian gizi pada waktu hamil bisa menyebabkan bayi sehat.
http://koffieenco.blogspot.com/2013/08/macam-macam-metode-penelitian.html
Minggu, 20 Juli 2014
Menentukan Masalah dalam Penelitian
Hal yang paling utama dalam membuat penelitian adalah menentukan masalah, karena menentukan masalah sangat sulit dilakukan oleh peneliti pemula. Oleh karena itu, penentuan masalah harus memperhatikan arah penelitian yang akan ditentukan. Setelah itu, seorang peneliti juga harus menentukan tujuan penelitian yang didasarkan pada pokok permasalahan yang diteliti. Namun demikian, menentukan masalah penelitian akan nampak jelas setelah peneliti membuat latar belakang masalah, karena latar belakang merupakan cerminan dari sebuah masalah yang akan diteliti. Tetapi sampai saat ini seorang peneliti masih banyak yang belum mampu menulis latar belakang masalah yang baik. Bahkan saat ini tidak sedikit peneliti yang penelitian sering membawa pengikutnya ke arah kesesatan. Kesesatan yang dimaksud di sini adalah kesesatan dalam penelitian dalam bentuk adanya penyimpangan-penyimpangan dalam mengutip referensi. Bahkan yang lebih menyedihkan adalah masih banyak editor yang ingin menyesuaikan permasalahan peneliti dengan keinginannya. Artinya, sangat banyak perubahan penelitian yang dilakukan oleh seorang editor yang pada akhirnya, tujuan penelitian yang dicapai sering melenceng dari keinginan peneliti itu sendiri.
Sabtu, 19 Juli 2014
Menentukan Teknik Pengumpulan Data
Dalam menulis laporan karya ilmiah sering menjadi kendala dalam pengumpulan data, karena penggunaan teknik pengumpulan data yang tidak sesuai dengan jenis penelitian. Sebenarnya pendekatan penelitian terbagi kepada dua macam, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Karena perbedaan pendekatan penelitian, maka penggunaan teknik pengumpulan data juga berbeda. Umumnya penelitia kualitatif sering menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk pendekatan kuatitatif sering menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, quistioner, tes, dan dokumen. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mampu memilih dan memilah penggunaan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Jika terjadi kesalahan dalam penggunaan teknik pengumpulan data, maka tujuan yang diharapkan dalam penelitian tidak akan tercapai sesuai dengan harapan. Di sisi lain, penggunaan teknik pengumpulan data juga harus disesuai dengan pokok bahasan penelitian sebagai penentu arah penelitian. Bila hal tersebut diperhatikan dengan baik, maka penelitian yang dilakukan akan memiliki kualitas yang baik dan menjadi sebuah referensi di masa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)
.gif)