Jumat, 25 Juli 2014

Penentuan Sampel

Teknik Pengambilan Sampel : Nonprobability Sampling
Pengertian Nonprobability Sampling atau Definisi Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik Sampling Nonprobality ini meliputi :Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Insidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh, Snowball Sampling.
1. Sampling Sistematis
Pengertian Sampling Sistematis atau Definisi Sampling Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.Contoh Sampling Sistematis, anggota populasi yang terdiri dari 100 orang, dari semua semua anggota populasi itu diberi nomor urut 1 sampai 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan mengambil nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor urut 1, 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
2. Sampling Kuota
Pengertian Sampling Kuota atau Definisi Sampling Kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan.Contoh Sampling Kuota, akan melakukan penelitian tentang Karies Gigi, jumlah sampel yang ditentukan 500 orang, jika pengumpulan data belum memenuhi kuota 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
3. Sampling Insidental
Pengertian Sampling Insidental atau Definisi Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
4. Purposive Sampling
Pengertian Purposive Sampling atau Definisi Purposive Sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Contoh Purposive Sampling, akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk Penelitian Kualitatif atau penelitian yang tidak melakukan generalisasi.
5. Sampling Jenuh (Sensus)
Pengertian Sampling Jenuh atau Definisi Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.
6. Snowball Sampling
Pengertian Snowball Sampling atau Definisi Snowball Sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang sampel, tetapi karena dengan dua orang sampel ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sampel sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel Purposive dan Snowball. Contohnya akan meneliti siapa provokasi kerusuhan, maka akan cocok menggunakan Purposive Sampling dan Snowball Sampling.
Cara Pengambilan Sampel dengan Probabilitas Sampling
Ada empat macam teknik pengambilan sampel yang termasuk dalam teknik pengambilan sampel dengan probabilitas sampling. Keempat teknik tersebut, yaitu cara acak, stratifikasi, klaster, dan sistematis.
1. Sampling Acak
Ada beberapa nama untuk menyebutkan teknik pemilihan sampling ini. Nama tersebut termasuk di antaranya: random sampling atau teknik acak. Apa pun namanya teknik ini sangat populer dan banyak dianjurkan penggunaannya dalam proses penelitian. Pada teknik acak ini, secara teoretis, semua anggota dalam populasi mempunyai probabilitas atau kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel. Untuk mendapat responden yang hendak dijadikan sampel, satu hal penting yang harus diketahui oleh para peneliti adalah bahwa perlunya bagi peneliti untuk mengetahui jumlah responden yang ada dalam populasi.
Teknik memilih secara acak dapat dilakukan baik dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan tabel random.
a. Cara Tradisional
Cara tradisional ini dapat dilihat dalam kumpulan ibu-ibu ketika arisan. Teknik acak ini dapat dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut:
tentukan jumlah populasi yang dapat ditemui;
daftar semua anggota dalam populasi, masukkan dalam kotak yang telah diberi lubang penarikan;
kocok kotak tersebut dan keluarkan lewat lubang pengeluaran yang telah dibuat;
nomor anggota yang keluar adalah mereka yang ditunjuk sebagai sampel penelitian;
lakukan terus sampai jumlah yang diinginkan dapat dicapai.
b. Menggunakan Tabel Acak
Pada cara kedua ini, proses pemilihan subjek dilakukan dengan menggunakan tabel yang dihasilkan oleh komputer dan telah diakui manfaatnya dalam teori penelitian. Tabel tersebut umumnya terdiri dari kolom dan angka lima digit yang telah secara acak dihasilkan oleh komputer.
Dengan menggunakan tabel tersebut, angka-angka yang ada digunakan untuk memilih sampel dengan langkah sebagai berikut:
identifikasi jumlah total populasi;
tentukan jumlah sampel yang diinginkan;
daftar semua anggota yang masuk sebagai populasi;
berikan semua anggota dengan nomor kode yang diminta, misalnya: 000-299 untuk populasi yang berjumlah 300 orang, atau 00-99 untuk jumlah populasi 100 orang;
pilih secara acak (misalnya tutup mata) dengan menggunakan penunjuk pada angka yang ada dalam tabel;
pada angka-angka yang terpilih, lihat hanya angka digit yang tepat yang dipilih. Jika populasi 500 maka hanya 3 digit dari akhir saja. Jika populasi mempunyai anggota 90 maka hanya diperlukan dua digit dari akhir saja;
jika angka dikaitkan dengan angka terpilih untuk individual dalam populasi menjadi individu dalam sampel. Sebagai contoh, jika populasinya berjumlah 500, maka angka terpilih 375 masuk sebagai individu sampel. Sebaliknya jika populasi hanya 300, maka angka terpilih 375 tidak termasuk sebagai individu sampel;
gerakan penunjuk dalam kolom atau angka lain;
ulangi langkah nomor 8 sampai jumlah sampel yang diinginkan tercapai.
Ketika jumlah sampel yang diinginkan telah tercapai maka langkah selanjutnya adalah membagi dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan sesuai dengan bentuk desain penelitian.
Contoh Memilih Sampel dengan Sampling Acak
Seorang kepala sekolah ingin melakukan studi terhadap para siswa yang ada di sekolah. Populasi siswa SMK ternyata jumlahnya 600 orang. Sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dia ingin menggunakan teknik acak, untuk mencapai hal itu, dia menggunakan langkah-langkah untuk memilih sampel seperti berikut.
Populasi yang jumlahnya 600 orang diidentifikasi.
Sampel yang diinginkan 10% x 600 = 60 orang.
Populasi didaftar dengan diberikan kode dari 000-599.
Tabel acak yang berisi angka random digunakan untuk memilih data dengan menggerakkan data sepanjang kolom atau baris dari tabel.
Misalnya diperoleh sederet angka seperti berikut: 058 710 859 942 634 278 708 899
Oleh karena jumlah populasi 600 orang maka dua angka terpilih menjadi sampel yaitu: 058 dan 278.
Coba langkah d sampai diperoleh semua jumlah 60 responden.
2. Teknik Stratifikasi
Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian sosial lainnya, sering kali ditemui kondisi populasi yang ada terdiri dari beberapa lapisan atau kelompok individual dengan karakteristik berbeda. Di sekolah, misalnya ada kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Mereka juga dapat dibedakan menurut jenis kelamin responden menjadi kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Di masyarakat, populasi dapat berupa kelompok masyarakat, misalnya petani, pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta, dan sebagainya. Keadaan populasi yang demikian akan tidak tepat dan tidak terwakili; jika digunakan teknik acak. Karena hasilnya mungkin satu kelompok terlalu banyak yang terpilih sebagai sampel, sebaliknya kelompok lain tidak terwakili karena tidak muncul dalam proses pemilihan.
Teknik yang paling tepat dan mempunyai akurasi tinggi adalah teknik sampling dengan cara stratifikasi. Teknik stratifikasi ini harus digunakan sejak awal, ketika peneliti mengetahui bahwa kondisi populasi terdiri atas beberapa anggota yang memiliki stratifikasi atau lapisan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Ketepatan teknik stratifikasi juga lebih dapat ditingkatkan dengan menggunakan proporsional besar kecilnya anggota lapisan dari populasi ditentukan oleh besar kecilnya jumlah anggota populasi dalam lapisan yang ada.
Seperti halnya teknik memilih sampel secara acak, teknik stratifikasi juga mempunyai langkah-langkah untuk menentukan sampel yang diinginkan. Langkah-langkah tersebut dapat dilihat seperti berikut :
Identifikasi jumlah total populasi.
Tentukan jumlah sampel yang diinginkan.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi.
Pisahkan anggota populasi sesuai dengan karakteristik lapisan yang dimiliki.
Pilih sampel dengan menggunakan prinsip acak seperti yang telah dilakukan dalam teknik random di atas.
Lakukan langkah pemilihan pada setiap lapisan yang ada.
Sampai jumlah sampel dapat dicapai.
Contoh menentukan sampel dengan teknik stratifikasi
Seorang peneliti ingin melakukan studi dari suatu populasi guru SMK yang jumlahnya 900 orang, sampel yang diinginkan adalah 10% dari populasi. Dalam anggota populasi ada tiga lapisan guru, mereka adalah yang mempunyai golongan dua, golongan tiga, dan golongan empat. Dia ingin memilih sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi. Terangkan langkah-langkah guna mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi tersebut.
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Jumlah total populasi adalah 900 orang.
Daftar semua anggota yang termasuk sebagai populasi dengan nomor 000-899.
Bagi populasi menjadi tiga lapis, dengan setiap lapis terdiri 300 orang.
Undilah sampel yang diinginkan 30% x 900 = 270 orang.
Setiap lapis mempunyai anggota 90 orang.
untuk lapisan pertama gerakan penunjuk (pensil) dalam tabel acak.
Dan pilih dari angka tersebut dan ambil yang memiliki nilai lebih kecil dari angka 899 sampai akhirnya diperoleh 90 subjek.
Lakukan langkah 6 dan 7 untuk Iapis kedua dan ketiga sampai total sampel diperoleh jumlah 270 orang.
3. Teknik Klaster
Teknik klaster merupakan teknik memilih sampel lainnya dengan menggunakan prinsip probabilitas. Teknik ini mempunyai sedikit perbedaan jika dibandingkan dengan kedua teknik yang telah dibahas di atas. Teknik klaster atau Cluster Sam¬pling ini memilih sampel bukan didasarkan pada individual, tetapi lebih didasarkan pada kelompok, daerah, atau kelompok subjek yang secara alami berkumpul bersama. Teknik klaster sering digunakan oleh para peneliti di lapangan yang wilayahnya mungkin luas. Dengan menggunakan teknik klaster ini, mereka lebih dapat menghemat biaya dan tenaga dalam menemui responden yang menjadi subjek atau objek penelitian.
Memilih sampel dengan menggunakan teknik klaster ini mempunyai beberapa langkah seperti berikut.
Identifikasi populasi yang hendak digunakan dalam studi. b. Tentukan besar sampel yang diinginkan.
Tentukan dasar logika untuk menentukan klaster.
Perkirakan jumlah rata-rata subjek yang ada pada setiap klaster.
Daftar semua subjek dalam setiap klaster dengan membagi antara jurnlah
sampel dengan jumlah klaster yang ada.
Secara random, pilih jumlah angggota sampel yang diinginkan untuk setiap klaster.
Jumlah sampel adalah jumlah klaster dikalikan jumlah anggota populasi per klaster.
Contoh terapan pemilihan sampel dengan menggunakan teknik klasterMisalkan seorang peneliti hendak melakukan studi pada populasi yang jumlahnya 4.000 guru dalam 100 sekolah yang ada. `Sampel yang diinginkan adalah 400 orang. Cara yang digunakan adalah teknik sampel secara klaster dengan sekolah sebagai dasar penentuan logis klaster yang ada. Bagaimanakah langkah menentukan sampel tersebut?
Jawabannya adalah sebagai berikut.
Total populasi adalah 4.000 orang.
Jumlah sampel yang diinginkan 400 orang.
Dasar logis klaster adalah sekolah yang jumlahnya ada 100.
Dalam populasi, setiap sekolah adalah 4.000/100 = 40 guru setiap sekolah.
Jumlah klaster yang ada adalah 400/40 = 10.
Oleh karena itu, 10 sekolah di antara 100 sekolah dipilih secara random.
Jadi, semua guru yang ada dalam 10 sekolah sama dengan jumlah sampel yang diinginkan.
4. Teknik Secara Sistematis
Teknik memilih sampel yang keempat adalah teknik sistematis atau systematic sampling. Teknik pemilihan ini menggunakan prinsip proporsional. Caranya ialah dengan menentukan pilihan sampel pada setiap 1/k, di mana k adalah suatu angka pembagi yang telah ditentukan misalnya 5,6 atau 10. Syarat yang perlu diperhatikan oleh para peneliti adalah adanya daftar atau list semua anggota populasi.
Untuk populasi yang didaftar atas dasar urutan abjad pemakaian metode menggunakan teknik sistematis juga dapat diterapkan. Walaupun mungkin saja terjadi bahwa suatu nama seperti nama yang berawalan su, sri dalam bahasa Indonesia akan terjadi pengumpulan nama dalam awalan tersebut. Sisternatis proporsional k dapat memilih dengan baik.
Teknik observasi lapangan khusus untuk penelitian di lokasi tambang
Pengumpulan Data penelitian
Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan langsung di lapangan. Mengamati tidak hanya melihat, melainkan merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian yang ada di lapangan. Teknik ini ada dua macam, yaitu observasi langsung (observasi partisipasi) yaitu apabila pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejalagejala pada objek yang dilakukan secara langsung di tempat kejadian, dan observasi tidak langsung (observasi non-partisipasi) yaitu pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada objek tidak secara langsung di lapangan. Beberapa cara yang biasa dilakukan dalam observasi adalah sebagai berikut:
1) Membuat catatan anekdot (anecdotal record), yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan observasi. Catatan ini berisi fenomena atau peristiwa yang terjadi saat observasi.
2) Membuat daftar cek (checklist), yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis. Daftar cek ini biasanya dibuat sebelum observasi dan sesuai dengan tujuan observasi.
3) Membuat skala penilaian (rating scale), yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian secara bertingkat untuk mengamati kondisi data secara kualitiatif.
4) Mencatat dengan menggunakan alat (mechanical device), yaitu pencatatan yang dilakukan melalui pengamatan dengan menggunakan alat, misalnya slide, kamera, komputer, dan alat perekam suara.
Observasi tersebut dapat terbentang mulai dari kegiatan pengumpulan data yang formal hingga yang tidak formal. Bukti observasi seringkali bermanfaat untuk memberikan informasi tambahan tentang topik yang akan diteliti. Observasi dapat menambah dimensi-dimensi baru untuk pemahaman konteks maupun fenomena yang akan diteliti. Observasi tersebut bisa begitu berharga sehingga peneliti bisa mengambil foto-foto pada situs studi kasus untuk menambah keabsahan penelitian (Dabbs, 1996: 113).



REFERENSI
Sugiyono, 2007, Statistika Untuk Penelitian, Cetakan Keduabelas, Alfabeta, Bandung.
 
Sumber :
http://gerrytri.blogspot.com/2013/06/teknik-pengambilan-sampel-dalam.html

Rabu, 23 Juli 2014

Tindakan Plagiat

Menurut situs Dikti “Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengakuan atas karya orang lain oleh seseorang yang menjadikan karya tersebut sebagai karya ciptaannya. Orang yang melakukan plagiarisme disebut plagiaris/plagiator. Dengan batasan demikian, plagiarisme adalah pencurian (bahasa kasarnya, pembajakan) dan plagiaris adalah pencuri (pembajak)”.
Definisi Plagiarisme
Plagiarisme berasal dari dua kata Latin, yang berarti plagiarius penculik, dan plagiare yang berarti mencuri. Menurut Random House Dictionary Compact Unabridged, plagiarisme didefinisikan sebagai “penggunaan atau imitasi dekat dari bahasa dan pemikiran penulis lain dan representasi mereka sebagai karya asli seseorang.” Hal ini juga dianggap sebagai pelanggaran etika ilmiah dan kekayaan intelektual oleh banyak akademisi.
Plagiarisme dalam kata-kata sederhana mencuri bahasa dan pikiran orang lain, dan lewat itu sebagai karya asli seseorang. Ada berbagai jenis plagiarisme, membaca tentang mereka untuk memahami jenis dan cara yang dilakukan.
Adapun Jenis-jenis dalam Plagiarisme :
1. Akademik dan jurnalistik plagiarisme merupakan praktek usia tua. Namun, plagiarisme internet sekarang merajalela dengan munculnya Internet, dan plagiarisme telah mengambil banyak bentuk-bentuk baru. Sekarang hanya tentang cut, copy, dan paste, atau mengulang sedikit. Namun salinan itu!
2. Plagiarisme Lengkap: Isi yang telah disajikan sebagai sendiri, tanpa ada perubahan yang dibuat untuk bahasa, pikiran, aliran, dan bahkan tanda baca dikenal sebagai plagiarisme penuh. Banyak akademisi percaya bahwa umumnya pekerjaan orang-orang yang tidak kompeten dalam mata pelajaran tertentu, atau sekadar malas untuk berusaha.
3. Plagiarisme parsial: Ketika konten yang disajikan adalah kombinasi dua sampai tiga sumber yang berbeda, di mana penggunaan mengulang dan sinonim merajalela, maka dikenal sebagai plagiarisme parsial. Di sini, penulis menggunakan beberapa orisinalitas, tapi tidak memadainya pengetahuan tentang mata pelajaran tertentu adalah alasan umum untuk kejadian plagiarisme parsial.
4. Plagiarisme minimalis: Di sini, penulis plagiator orang lain konsep, gagasan, pikiran, atau pendapat dalam kata-kata mereka sendiri dan dalam aliran yang berbeda. Meskipun banyak yang tidak menganggap ini sebagai plagiarisme (mungkin seseorang yang melakukannya!), Itu dianggap sebagai mencuri someones studi atau pikiran. Plagiarisme minimalis melibatkan banyak parafrase.
5. Sumber Kutipan: Ketika informasi sumber lengkap dengan kutipan disediakan, tidak berjumlah plagiarisme. Namun, definisi sumber kutipan lengkap bervariasi jauh. Beberapa penulis mengutip nama sumber, tetapi tidak memberikan informasi yang dapat diakses lainnya. Sementara beberapa mudah memberikan referensi palsu, beberapa hanya menggabungkan informasi mereka dengan karya asli penulisan. Seorang penulis hantu adalah contoh sempurna dari plagiator. Di sini penulis merasa bebas untuk sumber informasi dan mereproduksi itu sebagai milik mereka.
6. Self-plagiarisme: Bentuk plagiarisme yang mungkin paling diperebutkan sebagai “itu” dan “tidak”. Menggunakan karya sendiri, sepenuhnya atau sebagian, atau bahkan pikiran yang sama dan re-menulisnya, dikenal sebagai self-plagiarisme oleh banyak orang. Penerbitan bahan yang sama melalui media yang berbeda tanpa referensi itu benar adalah kebiasaan yang sangat umum di antara banyak penulis. Konten pada banyak situs adalah contoh sempurna dari diri plagiarisme.
Setelah memahami apa itu plagiat dan jenis plagiat , ada beberapa ciri yang termasuk ke dalam plagiat dan yang bukan termasuk plagiat , dan cara menghindari tindakan plagiarisme .
Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarisme.
  • Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,
  • Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
  • Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
  • Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
  • Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya
  • Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
  • Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.
Yang digolongkan sebagai plagiarisme:
  • menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain
  • mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya
Yang tidak tergolong plagiarisme:
  • menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
  • menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.
  • mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.
Cara Menghindari Plagiarisme
Plagiarisme ini adalah sebuah pelanggaran etika oleh karena itu kita harus dapat menghindari dan mencegahnya, berikut cara-cara menghindari dan mencegah tindakan plagiat.
  • Dalam Lembaga Pendidikan dan Universitas harus dberikan panduan dan bimbingan kepada siswa/mahasiswa dalam membuat suatu karya, skripsi, karya ilmiah dan sebagainya. hal ini dapat membuat siswa atau mahasiswa tidak mencoba untuk melakukan tindakan plagiarisme.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri kepada siswa ataupun mahasiswa agar menghargai karya ciptaan sendiri maupun orang lain, hal ini peran keluarga, guru, dan dosen sangatlah berpengaruh untuk menumbuhkan rasa percaya diri tersebut.
  • Memberi penghargaan terhadap karya-karya orang yang tidak melakukan tindakan plagiat, hal ini sangat berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri untuk menciptakan hasil karya sendiri.
Plagiat itu sendiri merupakan perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh nilai untuk suatu karya ilmiah , dengan mengutip sebagain atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah orang lain , tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai (Permendiknas No 17 tahun 2010, Pasal 1 Ayat 1 ).
Dan pelanggaran ini juga diatur didalam undang-undang nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta . sebagaimana undang-undang yang mengatur tersebut plagiat merupakan tindakan pidana .
dibawah ini jelas sekali undang-undang yang mengaturnya
 Pasal 72 ayat (1) :
“Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”.
dimana Pasal 2 ayat (1) tersebut :
“Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Pasal 12
Sanksi bagi Mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 10 ayat (4), secara berurutan dari yang baling ringan sampai dengan yang paling berat terdiri atas :
  • Teguran
  • Peringatan tertulis
  • Penundaan pemberian sebagai hak mahasiswa
  • Pembatalan nilai satu atau beberapa mata kuliah yang diperoleh mahasiswa.
  • Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
  • Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa atau;
  • Pembatalan ijazah apabila mahasiswa telah lulus dari suatu program.
Kesimpulan :
Plagiat atau Plagiarisme adalah tindakan penjiplakan atau pencurian suatu karya seseorang tanpa mencantumkan sumber atau referensi yang telah di gunakan secara sengaja maupun tidak sengaja plagiat merupakan tindakan yang tidak terpuji, melanggar etika, melanggar hokum . Sebenarnya hal ini hanya memberikan keuntungan sesaat, hal ini terjadi karena banyak masyarakan yang tidak menyadari bahwa tindakan menjiplak karya orang lain tanpa meminta izin akan merugikan dirinya sendiri dan korbanya. Jika dikemudain hari dilakukan evaluasi atas karya ilmiah tersebut maka si “pembajak” akan mengalami kesulitan dan akan mendapatkan hasil yang buruk .
Menurut saya sebagai penulis , artikel-artikel yang saya muat dalam blog saya , tidak merupakan tindakan plagiat karena saya selalu mencantumkan sumber atau refenesi yang saya dapatkan sebagai acuan dari penulisan artikel saya .

Sumber :

http://vanitya.wordpress.com/2013/12/29/tindakan-plagiat-plagiarisme/

Senin, 21 Juli 2014

Macam-Macam Metode Penelitian

Metode penelitian adalah rangkaian dari cara / kegiatan pelaksanaan penelitian dan didasari oleh pandangan filosofis, asumsi dasar, dan ideologis serta pertanyaan dan isu yang dihadapi. Sebuah penelitian memiliki rancangan penelitian tertentu. Rancangan ini menjelaskan prosedur / langkah-langkah yang harus dijalani, waktu penelitian, kondisi data dikumpulkan, sumber data serta dengan cara apa data tersebut dibuat dan diolah. Tujuan dari rancangan ini adalah menggunakan metode penelitian yang baik dan tepat, dirancang kegiatan yang bisa memberikan jawaban yang benar terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian. Berikut macam-macam metode penelitian :

1. Penelitian kuantitatif
Penelitian ini didasari oleh suatu filsafat positivisme yang mengacu pada fenomena-fenomena objektif serta dikaji secara kuantitatif. Memaksimalkan objektivitas desain dalam penelitian dengan memakai angka-angka, struktur, pengolahan statistik, dan percobaan terkontrol. Di dalam penelitian kuantitatif ada beberapa metode yakni : deskriptif, survei,
komparatif, penelitian tindakan, korelasional, dan ekspos facto.
  • Penelitian deskriptif = penelitian deskriptif merupakan sebuah metode penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang ada, dan yang sedang berlangsung saat ini maupun yang lampau. Seperti : berapa lama orang dewasa menghabiskan waktunya untuk bekerja. Penelitian deskriptif, dapat menjelaskan sesuatu kondisi saja, namun dapat juga menjelaskan keadaan da dalam langkah-langkah perkembangannya. Penelitian yang demikian disebut dengan penelitian perkembangan ( developmental studies ). Ada 2 sifat di dalam penelitian perkembangan yakni longitudinal / sepanjang waktu dan cross sectional / dalam potongan waktu.
  • Penelitian survei = metode survei digunakan untuk mendapatkan informasi dalam bentuk opini dari sejumlah orang terhadap isu dan topik tertentu. Dalam survei ada 3 karakter utama yaitu 1) informasi dikumpulkan dari kelompok besar orang yang digunakan untuk menjelaskan beberapa aspek tertentu. 2) informasi dikumpulkan lewat pengajuan pertanyaan (biasanya tertulis). 3) informasi yang didapat dari sampel, tidak dari populasi. Tujuan dari survei adalah untuk mengetahui gambaran umum dari populasi. 
  • Penelitian ekspos facto = metode yang meneliti hubungan antara sebab dan akibat. Penelitian ini dilakukan terhadap program, kejadian / kegiatan yang sudah berlangsung / telah terjadi. Seperti penelitian tentang pemberian gizi pada waktu hamil bisa menyebabkan bayi sehat.
Sumber:
http://koffieenco.blogspot.com/2013/08/macam-macam-metode-penelitian.html

Minggu, 20 Juli 2014

Menentukan Masalah dalam Penelitian

Hal yang paling utama dalam membuat penelitian adalah menentukan masalah, karena menentukan masalah sangat sulit dilakukan oleh peneliti pemula. Oleh karena itu, penentuan masalah harus memperhatikan arah penelitian yang akan ditentukan. Setelah itu, seorang peneliti juga harus menentukan tujuan penelitian yang didasarkan pada pokok permasalahan yang diteliti. Namun demikian, menentukan masalah penelitian akan nampak jelas setelah peneliti membuat latar belakang masalah, karena latar belakang merupakan cerminan dari sebuah masalah yang akan diteliti. Tetapi sampai saat ini seorang peneliti masih banyak yang belum mampu menulis latar belakang masalah yang baik. Bahkan saat ini tidak sedikit peneliti yang penelitian sering membawa pengikutnya ke arah kesesatan. Kesesatan yang dimaksud di sini adalah kesesatan dalam penelitian dalam bentuk adanya penyimpangan-penyimpangan dalam mengutip referensi. Bahkan yang lebih menyedihkan adalah masih banyak editor yang ingin menyesuaikan permasalahan peneliti dengan keinginannya. Artinya, sangat banyak perubahan penelitian yang dilakukan oleh seorang editor yang pada akhirnya, tujuan penelitian yang dicapai sering melenceng dari keinginan peneliti itu sendiri.

Sabtu, 19 Juli 2014

Menentukan Teknik Pengumpulan Data

Dalam menulis laporan karya ilmiah sering menjadi kendala dalam pengumpulan data, karena penggunaan teknik pengumpulan data yang tidak sesuai dengan jenis penelitian. Sebenarnya pendekatan penelitian terbagi kepada dua macam, yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. Karena perbedaan pendekatan penelitian, maka penggunaan teknik pengumpulan data juga berbeda. Umumnya penelitia kualitatif sering menggunakan teknik observasi partisipan, wawancara, dan dokumentasi. Adapun untuk pendekatan kuatitatif sering menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, quistioner, tes, dan dokumen. Oleh karena itu, seorang peneliti harus mampu memilih dan memilah penggunaan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Jika terjadi kesalahan dalam penggunaan teknik pengumpulan data, maka tujuan yang diharapkan dalam penelitian tidak akan tercapai sesuai dengan harapan. Di sisi lain, penggunaan teknik pengumpulan data juga harus disesuai dengan pokok bahasan penelitian sebagai penentu arah penelitian. Bila hal tersebut diperhatikan dengan baik, maka penelitian yang dilakukan akan memiliki kualitas yang baik dan menjadi sebuah referensi di masa depan.

Memilih Metode yang Sesuai

Dalam menulis karya ilmiah, hal yang paling penting diperhatikan adalah pemilihan metode yang sesuai dengan materi yang dibahas. Karena metode sangat menentukan kejelasan pembahasan masalah, sehingga tercapai tujuan penelitian yang diinginkan. untuk mencapai tujuan penelitian, seorang penulis harus mampu mengakomudirkan data penelitian yang ditemukan dilapangan. Sebab pengumpulan data juga menggunakan sebuah metode yang tepat. Di sisi lain, dalam penulisan karya ilmiah juga harus menghindari tindakan plagiasi, karena dewasa ini sangat banyak karya ilmiah yang mengandung unsur plagiasi. Padahal plagiasi merupakan sebuah tindakan yang sangat diharamkan dalam sebuah penelitian. Oleh karena itu, seorang peneliti profesional diwajibkan untuk menghindari plagiat dalam tulisannya. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menghindari tindakan plagiat dapat dilakukan dengan cara menentukan metode penelitian yang sesuai dengan masalah yang dibahas. Dengan menghindari plagiat, maka karya ilmiah yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, sehingga dapat dijadikan rujukan bagi peneliti setelahnya.

Choosing the Right Method
 
In writing scientific papers, the most important thing considered is the selection of the method according to the material covered. Because the method will determine the clarity of the discussion issues, thus achieved the desired objectives of the research. to achieve the research objectives, a writer must be able mengakomudirkan research data found in the field. Because data collection is also using an appropriate method. On the other hand, in the writing of scientific papers also must avoid plagiarism, because adults are many scientific papers that contain elements of plagiarism. In fact, plagiarism is an act that is strictly forbidden in a study. Therefore, a professional researcher is required to avoid plagiarism in writing. One of the efforts made to avoid plagiarism can be done by determining the appropriate research methods to the problems discussed. By avoiding plagiarism, the scientific papers produced are of good quality, so it can be used as a reference for researchers thereafter.

Kamis, 17 Juli 2014

Cara Menulis Latar Belakang

Menulis latar belakang masalah merupakan suatu hal yang paling susah diterapkan oleh semua penulis karya ilmiah. Sebab menulis latar belakang masalah harus memuat beberapa unsur yang harus diperhatikan dalam menulis latar belakang masalah. Oleh karena itu, dalam menulis latar belakang masalah juga sering tidak menjelaskan masalah yang akan diangkat, namun lebih parah lagi dalam penulisan masalah juga sering harus disesuaikan dengan keinginan pembimbing, jika karya ilmiah tersebut membutuhkan proses bimbingan. Seharusnya dalam menulis latar belakang masalah tidak perlu memaksakan keinginan dari pembimbing, karena latar belakang masalah tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang penulisnya. Namun demikian, umumnya dalam penulisan latar belakang masalah harus mencerminkan harapan, kenyataan dan solusi. Jika ketiga hal tersebut sudah terangkum, maka latar belakang masalah tersebut sudah sesuai dengan konsep penelitian yang seharusnya.

How to Write Background

Writing background problem is a most difficult thing applied by all authors of scientific papers. Because writing background issues should contain several elements that must be considered in writing the background of the problem. Therefore, in writing the background of the problem is also often do not explain the issues to be raised, but even worse in the writing problems also often have to be adjusted to the wishes supervisor, if the scientific work requires the guidance process. Should be in writing background issues should not force the desire of the supervisor, because the background of the problem can be seen from various viewpoints author. However, generally in writing background problems must reflect expectations, reality and solutions. If those three things are already summarized, then the background of the problem is in conformity with the concept of work has to be.

Rabu, 16 Juli 2014

Writing Tips

Writing has its own requirements that must be met by an author. Terms owned by a writer is to have a theme and a goal to be achieved. On the other hand, the writer should also be able to process written language properly and correctly in accordance with the rules of scientific writing. Without the fulfillment of the rules of writing, the writing will not be a reader. Due to no readers, then the popularity of an article will sink by itself. Therefore, the writer must learn how to write procedures properly. Thus, here are some tips will be presented in writing scientific papers, namely:
1. Having rules of language that is able to be understood by the reader
2. Language used does not beat around the bush
3. Having a clear goal
4. Use of appropriate methods
5. Discussion on target
Similarly, some of the tips that can be put forward may be useful for writers, particularly students who wish to complete the scientific work.

 
Tips Menulis

Menulis memiliki syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh seorang penulis. Syarat yang dimiliki oleh seorang penulis adalah memiliki tema dan tujuan yang akan dicapai. Di sisi lain, penulis juga harus mampu mengolah bahasa tulis dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. Tanpa terpenuhinya kaidah penulisan tersebut, maka sebuah tulisan tidak akan ada pembacanya. Akibat tidak ada pembaca, maka popularitas sebuah tulisan akan tenggelam dengan sendirinya. Oleh karena itu, seorang penulis harus mempelajari bagaimana tata cara menulis dengan baik dan benar. Dengan demikian, di sini akan dipaparkan beberapa tip menulis karya ilmiah, yaitu:
1. Memiliki kaidah bahasa yang mampu dipahami oleh pembaca
2. Bahasa yang digunakan tidak bertele-tele
3. Memiliki tujuan yang jelas
4. Penggunaan metode yang tepat
5. Pembahasannya tepat sasaran
Demikian beberapa tips yang dapat dikemukakan semoga bermanfaat bagi penulis, khususnya mahasiswa yang ingin menyelesaikan karya ilmiahnya.

Selasa, 15 Juli 2014

Kewajiban Menulis Karya Ilmiah

Mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya di berbagai perguruan tinggi diwajibkan untuk menulis karya akhir, karena karya akhir merupakan salah satu ciri kemampuan mahasiswa dalam membangun wawasan keilmuannya melalui tulisan. Membangun wawasan keilmuan juga termasuk kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa sebagai calon ilmuan muda dalam rangka melakukan pengabdian kepada masyarakat. Di sisi lain, mahasiswa sebagai calon intelektual muda harus membaktikan diri dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari perguruan tinggi tempat mereka menimba ilmu pengetahuan. Akan tetapi, kebanyakan mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan karya akhir. Kesulitan mahasiswa tersebut umumnya disebabkan oleh lemahnya kemampuan mahasiswa dalam mengolah bahasa tulisnya. Oleh karena hal itu, kebanyakan mahasiswa yang ingin menyelesaikan studinya, sering menggunakan jasa penulisan karya akhirnya. Ketidakmampuan mahasiswa dalam menyelesaikan karya akhirnya, akan menjadi penambah omset bagi jasa-jasa penulisan karya ilmiah tersebut. Tetapi yang menyedihkan adalah tidak sedikit jasan penulisan karya ilmiah mahasiswa tersebut yang melakukan plagiasi yang pada akhirnya dapat merugikan mahasiswa itu sendiri. Sebenarnya, boleh-boleh saja mahasiswa menggunakan jasa penulisan karya akhir, tetapi yang harus diperhatikan adalah tingkat plagiasi yang ditimbulkan oleh jasa penulisan karya akhir yang akan dimanfaatkan.